Di suatu hari ada Kakek dan Nenek pergi ke suatu toko souvenir untuk membeli kado ulang tahun untuk cucunya. Lalu mereka melihat sebuah cangkir yang cantik. "Lihat betapa cantiknya cangkir ini!" kata Si Nenek kepada Si Kakek.
Mendengar pujian itu si cangkir berkata kepada mereka, "Terima kasih atas pujian mu, tetapi aku dulu tidak cantik seperti ini". Si Kakek dan Nenek heran lalu bertanya kembali, "Mengapa kamu berkata seperti itu?".
Mendengar pujian itu si cangkir berkata kepada mereka, "Terima kasih atas pujian mu, tetapi aku dulu tidak cantik seperti ini". Si Kakek dan Nenek heran lalu bertanya kembali, "Mengapa kamu berkata seperti itu?".
Si Cangkir lalu menceritakan masa lalunya. Dahulu dia adalah sebuah tanah liat yang kotor. lalu seseorang memungutnya. Orang itu meletakkannya ke sebuah meja dan di putar2nya sampai dia merasa pusing. Lalu dia berteriak kepada orang itu "stop, stop!", tapi orang itu menjawab, "belum".
Lalu orang itu menggunakan tangannya mulai membentuk tanah liat itu. Tanah liat lagi2 merasa kesakitan dan berteriak "Stop! Stooopp!!". Tapi orang itu menjawab lagi, "belum".
Selesainya tanah liat itu dibentuk, dia di letakkan ke dalam tungku panas dan dibakar beberapa lama. Tidak tahan dengan panasnya tanah liat itu berteriak lagi "Stop! stop!". Orang itu berkata "belum".
Setelah beberapa lama di tungku yang panas, tanah liat lalu di angkat dan di beri cat. Tidak tahan oleh bau cat yang menyengat itu, si tanah liat berteriak "Stop! Stop!". Dan orang itu menjawab lagi "belum".
Seusainya di cat, tanah liat itu di masukkan lagi ke dalam tungku yang kali ini lebih panas dari sebelumnya. Karena tidak tahan panasnya lagi-lagi dia berteriak "Stop! Stop!". Dan orang itu menjawab "Belum".
Setelah beberapa lama, tanah liat itu diangkat dari tungku, lalu dia di letakkan di lemari di toko souvenir itu. Dan sewaktu tanah liat itu melihat dirinya yang berubah menjadi cangkir yang cantik melalui cermin, dia pun terpukau. Di toko souvenir itu juga lah si cangkir bertemu dengan si Kakek dan si Nenek.
Nah... seperti cerita si cangkir itu, di perjalanan hidup kita pasti banyak hal-hal "berat" yang kita harus lalui. Dan setiap kali kita melewati hal berat itu, kita sampai merasa kita mau menyerah.
Tapi hal-hal berat itu sebenarnya adalah salah satu proses untuk membuat kita menjadi lebih valuable seperti tanah liat itu yang akhirnya berubah menjadi cangkir cantik tadi. Karena kalau kita tidak melewati proses itu, tanah liat hanyalah tanah liat saja.
Janganlah takut dan cepat menyerah kalau menghadapi cobaan berat dalam hidup. Karena itu mungkin adalah proses pendewasaan diri kita.
1 件のコメント:
terharu saya kek baca tulisan ini...
コメントを投稿